Kebangkitan Dakwah Digital di Masa Pandemi
Tak dipungkiri lagi Islam bisa tersebar ke penjuru dunia hingga dewasa ini dikarenakan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, para sahabat Nabi, para ulama dan para da'i Islam. Melalui dakwah yang dilakukan oleh para da'i baik secara bil lisan, bil qolam maupun bil hal kini Islam bisa termasuk menjadi agama dengan penganut yang besar di dunia dan tebesar di Indonesia sehingga dakwah merupakan suatu aktivitas yang penting dan wajib agar nilai-nilai keluhuran Islam bisa selalu tersampaikan kepada umat manusia sehingga kelak khairu ummah pun dapat tercipta.
Pandemi membuat perubahan pola kehidupan layaknya efek domino, termasuk pola berdakwah yang biasnya dilakukan secara tatap muka dan berjamaah mengalami perubahan yang mencolok. Pemerintah aturan pelarangan aktivitas yang berpotensi mengumpulkan massa karena dapat menimbulkan resiko penyebaran virus. Pada kenyataannya dakwah tidak hanya dapat dilakukan di masjid, majelis atau komunitas secara tradisional atau tatap muka. Dakwah bisa dilakukan dimana saja, dan kapanpun. Covid-19 mendorong urgensi pendakwah untuk segera mangambil langkah start memasuki era digital, memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi secara optimal menjadi alternatif pergeseran pola dakwah. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para da’i yang baru memulai melakukan syiar agama secara virtual. Namun, disatu sisi merupakan peluang besar dalam memperluas jangkaun jamaah lintas daerah di Indonesia. Diungkapkan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), terdapat 171,17 juta dari total populasi penduduk 264,14 juta, artinya ada 64,8% pengguna internet Indonesia di tahun 2018. Pengguna usia 15-19 yang mengakses internet sebesar 91 persen, sementara yang tidak menggunakan internet sebesar 9 persen. Kedua terbesar adalah usia 20-24 tahun, dengan tingkat pengguna internet sebesar 88,5 persen, dan 11,5 persen rentang usia tersebut tidak mengakses internet. Selain itu, ada sebanyak 13,4 persen senior milenial dan 6,5 persen junior milenial yang mengakses internet selama 7-10 jam sehari (IDN Research Institute). data tersebut menunjukkan bahwa milenial lekat hubungannya dengan internet dan dakwah digital merupakan langkah efektif dalam menyebarkan syiar agama secara lebih kreatif, variatif, dan fleksibel. YukNgaji, merupakan salah satu komunitas ngaji berbasis online dan offline. Komunitas YukNgaji telah aktif berdakwah di sosial media sejak 2016. Hingga tahun 2020 akun resmi YukNgaji memilik 514 ribu pengikut dan 124 ribu pelanggan youtube channel. Secara regular mereka berdakwah melalui berbagai cara dari desain, caption, video, rekaman hingga podcast. Pandemi justru menjadi momen untuk memperluas sasaran dakwah hingga lintas negara yaitu Hongkong, Istanbul dan Malaysia.#kkldriainpadangsidimpuan
👍🏻
BalasHapuswahh bermanfaat sekali sahabatkuuu
BalasHapusWahh syukurlah sahabatku
HapusMksh infonya
BalasHapus